Airpura, Jumat 1 April 2022 telah dilaksanakan Upacara Adat Petang Balimau suatu Tradisi untuk menyambut Bulan Suci Ramadhan yang dilaksanakan setiap tahunnya di Inderapura yang dihadiri oleh Camat Airpura Ibu Surmayenti, S.Sos, Ketua KAN Bapak Chairul Saleh, Rky.Mh Rajo Gerang, Ninik Mamak Nan 20, Muspika Kecamatan Airpura dan Pancung Soal, Forkopimca Kecamatan Airpura dan Pancung Soal, Kepala KUA Kecamatan Airpura dan Pancung Soal, Wali Nagari se-Kecamatan Airpura dan Pancung Soal, Camat Pancung Soal, Ketua Bamus Nagari se-Kecamatan Airpura dan Pancung Soal, Bundo Kanduang KAN Inderapura Kecamatan Airpura dan Pancung Soal, Kepala Kampung se-Kecamatan Airpura dan Pancung Soal, Ketua Pemuda Kecamatan Airpura dan Pancung Soal, Ketua TP.PKK beserta Anggota se-Kecamatan Airpura dan Pancung Soal, Tokoh Masyarakat.
Jelang datangnya Bulan Suci Ramadhan, di Pesisir Selatan khususnya di Inderapura selalu ada tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat salah satunya Upacara Adat Petang Balimau yang diselenggarakan sehari jelang pelaksanaan puasa setiap tahunnya. Petang Balimau merupakan salah satu tradisi yang masih menonjol dijalankan hingga saat ini. Tradisi asli Balimau sebenarnya tidak terkait mandi bersama di tempat pemandian, tetapi Balimau dalam arti sebenarnya merupakan wujud mensucikan diri dengan saling bermaafan dan juga silaturrahmi jelang puasa. Petang Balimau di Inderapura, Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat masih dipertahankan hingga kini. Upacara adat Petang Balimau di Inderapura dimulai dengan mengumpulkan Ramua Limau yang terdiri dari air bercampur potongan jeruk nipis, daun pandan, beragam bunga, bedak dan juga minyak wangi. Ramuan ini merupakan sumbangan dari Ninik Mamak Nan 20 sebagai Petinggi Adat di Inderapura. Setelah prosesi shalawat ramuan limau kemudian diarak menuju lapangan, pinggir Muara Sakai.
Upacara disambut dengan Silat kemudian ramua limau diletakan berjejer di atas meja panjang di tengah lapangan. Puncak dari Upacara Adat Petang Balimau didahului oleh Petinggi Adat, Para Pejabat dan Masyarakat secara bergiliran masing-masing mengusapkan ramuan limau yang berjejer diatas meja di kening dan kepala. Kemudian semua saling bersalaman dan bermaaf-maafan sebagai kewajiban jelang masuk Bulan Suci Ramadhan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!